Saturday, September 16, 2017

Gejala Infeksi Telinga Pada Bayi

Gejala Infeksi Telinga PadaBayi | Memiliki bayi dan merawat tumbuh kembangnya menjadi sesuatu momen paling berharga yang diidamkan setiap orang tua, perubahan tingkah laku hingga memiliki kepintaran baru pada pertumbuhan bayi membuat para orang tua merasa bangga dan kagum pada bayinya. Namun menjaga dan merawat tumbuh kembang bayi tak hanya diperlukan sekadar perhatian saja, melainkan mengenai segala gejala kelainan dan penyakit yang mungkin sedang diderita bayi. Pasalnya banyak aktivitas yang belum sepenuhnya bisa dilakukan oleh bayi, sehingga ada sedikit saja gangguan kesehatan yang dialaminya akan mengganggu proses tumbuh kembang bayi serta membuat bayi menjadi rewel dan kerap menangis. Salah satu masalah gangguan kesehatan yang sangat perlu diperhatikan adalah gangguan infeksi pada telinga bayi.

Jika bayi sering menarik-narik telinga bisa jadi itu Gejala Infeksi Telinga Pada Bayi

Pada saat orang tua memandikan bayi, terkadang ada air yang masuk ke dalam telinga bayi dan tidak disadari oleh orang tua. Pengumpulan air tersebut akan menjadi tempat bakteri bersarang dan mengakibatkan infeksi dan gangguan pada telinga. Infeksi pada telinga bayi biasanya disebabkan oleh bakteri dan virus yang bersarang pada bagian belakang gendang telinga. Pada saat kondisi infeksi telinga tersebut terbilang parah, maka akan muncul gejala demam, pilek dan bahkan batuk. Sehingga sudah sepatutnya bagi orang tua mengenai setiap gerak gerik bayi untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang sedang dialaminya.

Tanda - Tanda bayi mengalami infeksi telinga


Telinga bayi yang terserang infeksi bisanya akan disertai dengan beberapa penyakit lain seperti yang disebutkan di atas, hal itu karena sistem anti bodi akan mendeteksi adanya gangguan sehingga otomatis tubuh akan meresponnya dengan gangguan penyakit lain. Ada beberapa gejala dan ciri infeksi telinga pada bayi yang harus anda ketahui, tujuannya agar pertolongan dan penangan dini bisa segera dilakukan. Pasalnya, kondisi infeksi telinga yang terus dibiarkan akan membuat kerusakan pada gendang telinga dan membuat bayi mengalami gangguan pertumbuhan akibat tidak mau makan karena rasa sakit di bagian telinganya. Jadi sebaiknya kenali beberapa gejala infeksi telinga berikut ini.

1. Sering Menarik Telinga


Ketika bayi anda bereaksi kerap menarik daun telinganya dalam durasi yang cukup sering, maka bisa saja itu akibat rasa tidak nyaman yang dirasakan bayi pada bagian telinganya. Pada saat anda melihat ciri-ciri ini maka sebaiknya segera lakukan pemeriksaan pada telinga bayi apakah memang terdapat masalah atau hanya sekadar rasa gatal biasa.


2. Mengalami Gangguan Penyakit


Bayi yang menderita infeksi telinga bisanya juga disertai gangguan penyakit lain seperti muntah dan diare. Hal itu disebabkan karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan virus akan mengganggu sistem pertahanan tubuh serta mengganggu sistem pencernaan bayi. Jadi sebaiknya ketika anda mendapati bayi anda kerap muntah dan mengalami diare maka segera lakukan pemeriksaan dan penangan. Karena bisa jadi bayi anda sedang mengalami gangguan infeksi telinga.

3. Tidak Mau Makan


Pada saat telinga bayi mengalami infeksi, maka biasanya bayi akan menghindari makan atau menyusu. hal itu dikarenakan rasa sakit pada telinganya membuat bayi kesulitan untuk mengunyah atau membuka mulut. nah, ketika hal ini yang dialami bayi anda, maka segera lakukan pemeriksaan ke medis. Pasalnya kondisi infeksi telinga yang terus dibiarkan akan semakin mengurangi fungsi telinga secara menyeluruh.

4. Telinga Mengeluarkan Cairan


Dalam kondisi yang sudah berlangsung lama, infeksi telinga akibat bakteri di dalamnya akan berdampak adanya cairan putih atau kuning ang kerap keluar di telinga bayi. Hal itu disebabkan karena adanya lubang kecil yang muncul di bagian gendang telinga bayi. Dan sebaiknya untuk mengatasi masalah ini segera bawa bayi anda ke dokter agar penanganan dan penyembuhan bisa segera dilakukan segera.

Sebaiknya selalu memperhatikan semua gerak gerik dan kebiasaan bayi anda. Karena biasanya ketika bayi mengalami gangguan kesehatan maka ia akan merespon dengan aktivitas yang tidak biasanya seperti rewel dan menangis akibat rasa sakit serta memegang bagian tubuh yang terasa sakit. Untuk menghindari hal-hal yang tidak didinginkan sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan bayi kepada pihak medis.

Sehingga selain memperhatikan proses tumbuh kembangnya, anda juga tidak dibuat khawatir ketika bayi mengalami gangguan kesehatan selama anda rutin melakukan pemeriksaan.

Apa sih penyebab infeksi telinga pada bayi ?


Untuk masalah penyebab infeksi telinga bayi biasanya di sebabkan oleh virus atau juga bakteri, kondisi ini biasanya akan muncul lendir pada telinga tengah atau biasa di sebut mukosa pada ilmu kedokteran. Perlu di ketahui bahwasannya fungsi dari telinga bagian tengah adalah untuk menyampaikan suara pada telingan dalam melalui proses getaran dari ketiga tulang kecil yang berada di dalamnya. Pada anak - anak saluran eustachius yaitu tabung yang berfungsi menyalurkan udara kebagian telinga tengah ukurannya lebih kecil di banding dengan orang dewasa. Oleh karena itu kenapa anak-anak cukup rentan terhadap infeksi ini.

Info seputar kesehatan anak dan Ibu lainnya :




Friday, September 15, 2017

Inilah Penyebab Anemia Pada Bayi

Inilah Penyebab Anemia Pada Bayi | Anemia adalah kondisi tubuh yang mengalami kekurangan sel darah merah, tak hanya sangat berbahaya pada bayi saja, pada orang dewasa anemia juga dapat mengganggu kinerja organ di dalam tubuhnya. Tubuh manusia secara umum membutuhkan zat besi yang berfungsi sebagai penghasil sel darah merah yang dibutuhkan tubuh setiap hari. Oksigen yang masuk dari paru-paru ke jantung akan dibawa oleh darah ke semua bagian tubuh termasuk otak dan sel lainnya, sehingga tubuh yang mengalami anemia akan sangat membahayakan jantung dan kesehatan organ tubuh lainnya.

Jika keadaan bayi pucat, lemah mungkin Inilah Penyebab Anemia Pada Bayi


Pada bayi, anemia juga bisa terjadi dan dialami bahkan sejak mereka dilahirkan. Bayi membutuhkan banyak sekali asupan gizi dan vitamin yang cukup guna menyempurnakan metabolisme serta fungsi sel di dalam tubuhnya. Bayi yang mengalami anemia biasanya ditandai dengan beberapa gejala seperti pucat, lemah, kurang bersemangat dan mudah menangis. Selain sebagai zat penting yang membawa oksigen ke seluruh organ tubuh, sel darah juga berfungsi mengalirkan semua nutrisi dan energi dari makanan ke seluruh sel dan organ tubuh yang membutuhkan.

Penyebab anemia

Kondisi bayi yang mengalami anemia dan terus dibiarkan tanpa ada penanganan dapat berakibat fatal terhadap kesehatan dan pertumbuhan bayi, dalam kondisi terparahnya bayi yang mengalami anemia membutuhkan pertolongan medis dan pengobatan yang tepat. jadi sebagai orang sebaiknya kenali kesehatan bayi anda agar hal-hal buruk yang tidak diinginkan tidak terjadi pada bayi anda. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai beberapa penyebab anemia pada bayi, berikut penyebabnya.

1. Akibat kekurangan Zat Besi

Secara umum, orang yang mengalami anemia biasanya mereka akan mengalami masalah kekurangan zat besi, pasalnya zat ini dalah salah satu zat yang memproduksi sel darah merah dalam tubuh. Pada saat bayi sudah memasuki usia 1 bulan, maka tubuh bayi membutuhkan zat besi untuk membantu memperlancar sirkulasi darah serta dapat menjaga perkembangan organ bayi agar tetap tubuh dan berkembang. Pada kondisi bayi yang terserang anemia maka biasanya kondisi lemah yang dialaminya membuat bayi membutuhkan pertolongan dan perawatan yang tepat untuk mengatasinya.

2. Bayi Sudah Minum Susu Formula

Di dalam ASI terdapat kandungan zat dan vitamin kompleks yang dibutuhkan bayi setidaknya hingga bayi berumur 6 bulan, dan pada saat bayi sudah mengonsumsi susu formula sejal dilahirkan maka hal itu dapat memicu anemia pada bayi. Meskipun susu formula sejatinya juga mengandung zat besi, namun kebutuhan zat besi pada bayi lebih besar dari jumlah yang ada pada susu formula. Selain itu tubuh bayi juga akan mengalami masalah terhambatnya penyerapan zat besi, sehingga dapat memicu terajadinya pendarahan akibat usus bayi tidak dapat menerima yang besi.


3. Kekurangan Asupan Tambahan

Setelah bayi memasuki usia 6 bulan, maka kebutuhan gizi dan nutrisi bayi semakin bertambah. Bayi membutuhkan beragam gizi dan vitamin untuk proses tumbuh kembangnya. Sehingga pada usia ini bayi dianjurkan mendapatkan asupan tambahan yang banyak mengandung vitamin, zat besi serta zat lain yang memang dibutuhkan tubuh bayi. Pada saat bayi kekurangan asupan tambahan tersebut maka biasanya gejala yang akan di alami bayi adalah anemia, hal itu karena bayi kekurangan zat besi yang sejatinya bisa dipenuhi degan memberikan asupan tambahan kepada bayi.

4. Akibat Terkena Penyakit Kuning

Salah satu gangguan kesehatan pada bayi adalah sakit kuning, dimana tubuh bayi terlalu cepat memecah sel darah merah sehingga dapat mengakibatkan masalah anemia serta penyakit kuning. Selain itu masalah penyakit kuning pada bayi juga dapat memicu infeksi serta berisiko bayi mengalami anemia. Jadi salah satu penyebab anemia pada bayi adalah akibat bayi mengalami penyakit kuning.

5. Berat Badan Bayi Terlalu Rendah Saat Dilahirkan

Secara umum berat badan bayi saat dilahirkan berkisar 2.5 sampai 4.5 kg. Dan pada saat bayi dilahirkan dibawah berat normal hal itu dapat memicu bayi mengalami anemia. Sedangkan penyebab bayi lahir degan berat rendah biasanya dikarenakan ibu kekurangan nutrisi, ibu mengalami masalah kesehatan serta bayi lahir prematur.


Nah, jadi sebaiknya perhatikan gejala dan ketahui penyebab bayi mengalami anemia, karena pada dasarnya anemia dapat menjadi masalah kesehatan yang serius jika terus dibiarkan pada bayi, tubuh dan organ bayi akan mengalami masalah kesehatan jika kekurangan sel darah merah dalam waktu yang lama. Bagi ibu sebaiknya rutinlah untuk terus melakukan pemeriksaan kesehatan bayi agar ketika ada masalah dan gangguan pada bayi bisa lekas ditangani serta agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Info kesehatan bayi lainnya :






Mengatasi Bronkitis Pada Bayi

Mengatasi Bronkitis PadaBayiMasalah kesehatan atau gangguan kesehatan yang di alami bayi memang sangat banyak, hal itu karena bayi masih belum memiliki sistem kekebalan yang sempurna sehingga kotoran, bakteri dan virus dapat menyerang bayi degan mudah. Salah satu gangguan penyakit yang sering di alami bayi terutam bayi dibawah 12 bulan adalah masalah pernapasan baik itu batuk, flu, asma ataupun Bronkitis. Gangguan-gangguan saluran pernapasan pada bayi disebabkan oleh virus, bakteri dan juga udara yang kotor. Salah satu virus penyebab bronkitis pada bayi adalah virus Respiratory Syncytial Virus (RSV) atau jenis virus lainnya seperti influenza dan adenovirus. Virus-virs tersebut merupakan penyebab penyakit bronkitis serta yang mengakibatkan masalah pada saluran pernapasa

Berbagai Cara Mengatasi Bronkitis Pada Bayi


Salah satu penyebab paling besar terhadap penyakit bronkitis pada bayi adalah akibat terlalu kerap terpapar dan berada di lingkungan perokok, selain itu akibat kekurangan konsumsi ASI serta berada di lingkungan pada penduduk yang terdapat sangat minim udara sehat. Awal mula gejala bronkitis yang terjadi pada bayi adalah dengan ditandai infeksi pada saluran pernapasan bagian atas, selanjutnya bayi akan mengalami batuk yang parah pada 2 -3 hari kemudian dan bahkan disertai dengan muntah. Bayi akan merasa sangat sulit bernapas hingga napasnya mengeluarkan bunyi. Dan pada kondisi terparahnya bayi akan mengalami lebam dan kebiruan serta semakin sulit ketika menarik napas. pada kondisi seperti ini sebaiknya segera larikan bayi anda ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan dan penanganan yang tepat.

Pengobatan bronkitis secara alami 

Dan yang membuat khawatir pada saat bayi mengalami bronkitis adalah suhu tubuh bayi dapat mencapai puncaknya hingga 103 derajat F atau hingga 38 derajat C, pada kondisi ini biasanya bayi akan terus rewel dan terus menangis serta sulit untuk tidur. Namun jika kondisi bronkitis yang dialami bayi masih tergolong ringan, maka anda bisa melakukan pengobatan dan penyembuhan sendiri di rumah, dan berikut cara mengatasi bronkitis pada bayi yang bisa anda lakukan.

1. Perbanyak Menginsumsi Cairan

Jika bayi anda sudah mendapatkan makanan pendamping ASI atau sudah berusia di atas 6 bulan, maka sebaiknya perbanyak berikan cairan kepada bayi, baik itu susu atau sir putih. Hal itu bertujuan agar cairan dapat membantu meringankan gejala bronkitis yang di alaminya dan mencegah dehidrasi pada bayi anda.

2. menjaga Kelembapan Ruangan

Pada saat bronkitis, hal utama yang kerap ditangisi bayi adalah ketika kesulitan untuk bernapas. Jadi sebaiknya untuk meringankan nya pastikan kondisi ruangan tempat bayi berada sudah dalam kondisi yang lembap dan terhindar dari debu dan kotoran yang akan semakin memperparah kondisi bronkitis yang dialaminya.

3. Membantu Mengeluarkan Dahak

Biasanya cairan dahak yang mengental di saluran pernapasan bayi adalah penyebab bayi kesulitan bernapas, untuk membantu meringankan nya dengan memberikan uap air untuk dihisap agar dapat mecairkan dahak pada saluran pernapasan nya dan serta melapangkan jalan napas si bayi.

4. Perbanyak Istirahat

Bayi yang mengalami bronkitis sebaiknya tetap memberikan durasi istirahat yang banyak, karena dengan beristirahat yang cukup akan membantu meringankan demam serta batuk yang dialaminya. Selain itu hindari juga bayi dari debu, asap serta berada ditempat-tempat yang tidak bersih.
Biasanya bronkitis ringan akan berkurang selama kurang lebih satu minggu serta kematian akibat bronkitis juga terbilang sangat jarang. Namun meskipun demikian sebagai orang tua sebaiknya anda tetap memberikan perawatan tepat agar membantu meringankan dan menyembuhkan bronkitis yang sedang di alami bayi karena Sebagai orang tua tentu anda tidak ingin melihat bayi anda kesakitan dan kesulitan bernapas akibat penyakit bronkitis yang dialaminya.


Selain itu agar tidak kembali terulang, sebaiknya tetap perhatikan kebersihan rumah, lingkungan, pakaian serta tempat bermain bayi. Dan pastikan tangan anda selalu dalam kondisi yang bersih setiap kali menyentuh atau ketika berada di sampingnya. Serta selalu mengingatkan jika ada anggota keluarga yang merokok atau mencoba menyentuh bayi anda dalam keadaan yang tidak bersih. Pasalnya, bronkitis yang terus dibiarkan akan semakin mengganggu dan merusak paru dan sistem pencernaan bayi anda.

Info kesehatan lainnya :



Tuesday, September 12, 2017

Penyebab Bayi Gumoh atau Muntah Saat diberi ASI

Penyebab Bayi Gumoh atau Muntah Saat diberi ASI Bagi orang tua melihat dan mendapatkan bayi mereka gumoh adalah hal yang sudah biasa terutama setelah diberi ASI, karena memang gumoh pada bayi memang hal yang kerap terjadi dan bahkan hampir semua bayi pernah mengalami gumoh setidaknya satu kali dalam sehari. Gumoh tidak sama dengan muntah, walaupun sama-sama berupa pengeluaran isi lambung hanya saja gumoh bersifat pasif dan spontan seperti air mengalir seperti hanya melidah. Sedangkan muntah lebih cenderung memiliki jumlah yang banyak dan dengan kekuatan dan kontraksi lambung.

Bayi terkadang muntah atau gumoh saat di berikan ASI maka dari itukita perlu tahu penyebabnya perlu

Seperti halnya yang di bahas oleh healtdetik.com mengenai bayi yang sering muntah setelah menyusui. Muntah dan gumoh memang hal yang sudah biasa di alami oleh bayi dan terkesan sebagai hal yang normal selama tidak menjadi indikasi dan gangguan serius. Gumoh biasanya sering dialami oleh bayi berumur 4 bulan ke bawah dengan durasi keseringan mencapai hampir 70%. Dan semakin menurun seiring bertambahnya usia hingga mencapai 12 bulan. Bagi ibu sebaiknya jangan terlalu khawatir jika mendapati bayi anda kerap muntah / gumoh, karena itu adalah hal biasa yang dialami seluruh bayi. Ada beberapa penyebab yang mendasari mengapa bayi kerap mengalami gumoh.

Penyebab bayi muntah / Gumoh

Dan hal itu memang kebanyakan di alami oleh bayi hampir secara menyeluruh terutama setelah diberi ASI. Selama gumoh tidak menimbulkan gejala apa pun, maka itu tidak akan membahayakan pada bayi anda. Namun yang harus diketahui, gumoh terjadi karena disebabkan oleh beberapa hal dan berikut penyebab bayi gumoh setelah diberi ASI.

1. Terlalu Kenyang

Kondisi lambung yang penuh adalah faktor penyebab utama bayi gumoh setelah diberi ASI, Lambung bayi masih berkuran kecil dan hanya dapat menampung sedikit ASI di dalamnya, jadi ketika anda memberikan ASI dalam kadar dan kapasitas melebihi lambung bayi maka secara otomatis bayi akan gumor dan mengeluarkan ASI tersebut. Untuk mengatasi, sebaiknya berikan ASI kepada bayi dalam jumlah yang sedikit namun dalam durasi yang sering.

2. Posisi Menyusui

Selain karena terlalu kenyang, penyebab bayi gumor saat diberi ASI adalah akibat kesalahan posisi saat memberikan ASI pada bayi. Pada saat ibu menyusui dalam posisi miring dan otomatis bayi akan menyusu dalam kondisi terlentang, dan hal itu membuat cairan ASI tidak masuk ke dalam pencernaan namun  hanya sampai pada saluran pernapasan dan mengakibatkan bayi anda gumoh. Jadi sebaiknya posisikan bayi anda saat menyusui dengan posisi duduk atau sedikit berbaring, hal itu bertujuan agar ASI yang diminumnya bisa perlahan masuk ke dalam pencernaan atau lambung bayi

3. Pencernaan Belum Sempurna

Secara umum, pencernaan manusia terbagi menjadi dua bagian, pertama pencernaan bagian atas dan pencernaan bagian bawah. Jadi ketika bayi menyusu maka pertama ASI akan masuk ke pencernaan atas dan kemudian akan terus mengalir ke pencernaan bawah. Diantara kedua pencernaan itu terdapat klep atau katup yang akan terbuka ketika makanan masuk dan akan menutup secara otomatis ketika makanan sudah berada di pencernaan bawah. Sedangkan pada bayi, penutup atau klep pemisah kedua pencernaan ini masih belum dapat berfungsi secara normal, sehingga cairan yang sudah berada pada saluran pencernaan bagian bawah bisa kembali naik dan membuat bayi gumoh.

Baca juga : Penyebab bayi sering gelisah

4. Terlalu Aktif

Pada saat bayi dalam kondisi aktif maka secara otomatis akan terjadi penekanan pada lambung dan membuat isi cairan di dalamnya akan kembali keluar. Dan biasanya ini terjadi ketika bayi menggeliat atau pada saat sedang menangis terlalu kencang. Posisi lambung yang tertekan oleh tekanan akibat tangis tersebut membuat isi di dalamnya akan naik dan kembali ke mulut.
Gumoh pada bayi memang tidak dapat dihindari, namun durasi gumoh pada bayi masih tetap bisa kita minimalisir. Misalnya jika bayi anda mengalami gumoh lebih dari 10 kali dalam sehari, maka anda bisa meminimalkan jumlah gumoh tersebut.

Beberapa cara mengurangi muntah atau gumoh pada bayi

  • Jangan memberikan ASi kepada bayi dengan posisi miring atau berbaring. 
Sebaiknya jaga agar posisi bayi tetap tegak selama lebih kurang 30 menit setelah anda memberikan ASI. Hal itu bertujuan agar cairan ASI yang baru saja dikonsumsi bisa secara menyeluruh masuk ke dalam lambungnya.
  • Pada saat setelah menyusui, sebaiknya hindari meletakan bayi dalam kursi bayi. 
Hal itu karena dengan duduk di kursi tersebut akan membuat perut bayi mengalami tekanan dan dapat memicu gumoh.
  • Sendawakan bayi setelah anda memberikannya ASI.
Setidaknya 1 atau dua kali sendawa setelah menyusui agar menghindarkan cairan ASI dapat naik dan kembali keluar. Jika bayi menyusui menggunakan dot.Sebaiknya periksa dot bayi apakah memiliki lubang yang terlalu kecil atau besar. Jika lubang dot terlalu kecil maka itu dapat meningkatkan udara yang masuk ke dalam lambung bayi dan dapat mengakibatkan perut kembung, sedangkan jika lubang terlalu besar akan membuat cairan susu di dalamnya lebih cepat mengalir dan dapat mengakibatkan gumoh.
  • Sebaiknya jangan mengangkat bayi ketika sedang dalam keadaan gumoh.
Hal itu dapat menyebabkan cairan gumoh tersebut masuk ke dalam saluran pernapasan dan membahayakan pernapasan bayi. jadi sebaiknya tetap biarkan gumor bayi keluar hingga habis dan usahakan posisikan bayi dalam kedaan miring atau tengkurap hingga gumoh benar-benar habis.
Demikialah sedikit ulasan penyebab bayi gumoh dan juga cara menghindari agar bayi tidak gumoh saat menyusui.

Baca Info seputar Ibu dan kesehatan lainnya



Saturday, August 26, 2017

Penyebab Bayi Sering Gelisah dan Menangis

Penyebab Bayi Sering Gelisah dan MenangisBayi memang kerap mengeksprerikan apa yang sedang dialami dan diinginkannya dengan cara rewel dan menangis, hal itu karena bayi masih belum bisa melakukan apapun selain rewel dan menangis. Sehingga tak heran bagi sebagian orang tua yang terkadang merasa kesal dan tak mengerti apa yang diinginkan bayinya ketika menangis. Memahami dan mencari tahu apa penyebab bayi terus gelisah dan menangis adalah tugas utama orang tua, pasalnya dengan memahami kondisi yang di alami bayi anda tersebut maka rewel dan tangis bayi pun bisa segera berhenti.

Bayi sering gelisah dan menangis kita perlu mengetahui penyebabnya

Khusus bagi ibu-ibu muda yang baru pertama kalinya memiliki anak, maka mereka diharuskan memahami dan mencari tahu sendiri apa penyebab bayi nya menangis. Dan kadang dalam kondisi merawat bayi, pasang muda dituntut untuk menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada buah hatinya ketika gelisah dan rewel. Secara umum kondisi bayi rewel dan kerap menangis bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari hal kecil hinga terkadang karena gangguan dan masalah pada kesehatannya. Itulah mengapa para orang tua diharuskan jeli dan sabar saat menjaga dan membesarkan buah hatinya.

Aktivitas menangis dan gelisah seperti rewel adalah sebuah tindakan yang coba bayi beritahukan kepada orang tuanya tentang apa yang diinginkan dan dirasakannya, sehingga bagi orang tua harus dengan sigap menanggapi dan memberikan apa yang sedang bayi butuhkan. Secara umum ada beberapa hal yang membuat bayi anda menangis dan rewel, dan berikut penyebab bayi gelisah dan menangis.

1. Ketika Merasa Lapar

Pada saat bayi masih belum berbicara, maka untuk mengekpresikan rasa laparnya dia hanya gelisah dan menangis. Dan terkadang disertai dengan gerakan membuka dan menutup mulutnya. Selain itu kebiasaan lain yang dilakukan bayi pada saat lapar adalah dengan menghisap jari-jarinya. Namun pada saat bayi anda sudah mulai bisa mengeluarkan kata-kata walaupun tidak jelas, bisanya ketika dia merasa lapar maka bayi akan mencoba mengeluarkan suara dan meminta makan. Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk tetap mengajarkan dan membiasakan anak untuk mengucapkan kata-kata seperti makan, minum dan lainnya. hal itu bertujuan agar bayi terbiasa mendengarnya dan mencoba mengucapkan kata-kata tersebut.

2. Suhu Tubuh Meningkat

Pada saat bayi merasa suhu tubuhnya mengalami perubahan seperti panas atau dingin, biasanya selain mencoba melepas atau memegang apa yang membuatnya tak nyaman, bayi juga akan gelisah dan menangis. Apalagi jika perubahan suhu tubuhnya terjadi pada malam hari, bayi akan menangis dan rewel karena suhu tubuh yang membuatnya tidak nyaman. Begitu juga ketika bayi dalam kondisi demam, suhu tubuh bayi akan mengalami peningkatan dan membuatnya sering menangis dan susah untuk tidur. Bagi orang tua sebaiknya segera memberikan pertolongan untuk membantu menurunkan suhu tubuh bayi agar bayi bisa kembali tenang dan tidak gelisah.


3. Merasa Kelelahan

Bayi yang memasuki usia di atas 6 bulan, biasanya bayi dalam keadaan yang sangat aktif dan banyak melakukan berbagai aktivitas, bahkan hingga larut malam. Bayi yang banyak beraktivitas dan aktif akan mengalami masalah kesusahan untuk tidur di malam hari karena merasa kelelahan. Biasanya dalam kondisi ini bayi akan menangis dan gelisah. Akibatnya orang tua akan kebingungan untuk mencoba mendiamkan tangis bayi tersebut. Jadi sebaiknya, perhatikan aktivitas bayi anda di siang hari, jika dirasa sudah cukup berlebihan, maka ajak dia untuk beristirahat agar tidak merasa terlalu lelah di malam harinya.

4. Gigi Mulai Tumbuh

Pertumbuhan gigi bayi bisanya dimulai pada usia 8 bulan, dan pada kondisi ini bayi akan rewel dan kerap menangis. Dan bahkan pada saat awal proses tumbuhnya gigi, bayi akan kehilangan nafsu makan akibat rasa sakit di bagian gusinya. Bagi orang tua ketika bayi dalam kondisi seperti ini maka memberikan mainan gigit khusus untuk bayi adalah cara mengatasinya, hal itu karena dengan menggigit mainan tersebut maka rasa gatal pada gusi akibat gigi yang akan tumbuh bisa hilang dan mempercepat proses pertumbuhan gigi bayi.

5. Ada Gangguan Kesehatan

Selain beberapa hal biasa di atas, penyebab bayi kerap gelisah dan menangis lainnya adalah akibat adanya gangguan kesehatan yang sedang dialami oleh bayi. Rasa sakit pada bagian tertentu akan membuat bayi menangis dan gelisah apalagi jika disertai dengan suhu tubuh yang meningkat. jadi sebaiknya ketika bayi anda mengalami hal ini, segera lakukan penanganan atau bisa juga dengan membawa ke klinik atau pihak medis lainnya.

Mengetahui beberapa penyebab yang kerap membuat bayi menangis dan gelisah adalah keharusan bagi orang tua, dengan mengetahui penyebab ini maka bisa dipastikan anda akan lebih cepat memberikan apa yang sedang dibutuhkan oleh bayi anda. Selain beberapa penyebab di atas, bayi yang dalam keadaan buang air kecil atau besar juga akan menangis, hal itu karena bayi merasa tidak nyaman dengan pakaiannya yang basah tersebut.

Info seputar ibu & kesehatan lainnya :



Monday, August 21, 2017

Gejala Tumor Otak Pada Anak

Gejala Tumor Otak PadaAnak – Tumor otak yang dialami  anak memang bukan penyakit biasa. Seorang anak mengalami gejala-gejala tumor otak, maka orangtua harus segera memeriksakan anak ke dokter. Selain itu, sebaiknya mengupayakan langkah pengobatan secara tradisional seperti mengkonsumsi sarang semut, atau obat herbal anti tumor yang terbukti manjur dalam mengobati berbagai jenis penyakit tumor.

Perlu diketahui bahwa penyebab tumor otak adalah ketidaknormalan pertumbuhan sel-sel otak di bagian otak kecil. Namun sama halnya dengan jenis tumor lain, penyebab pasti dari penyakit tumor otak belum dapat diketahui. Biasanya tumor otak pada anak dirtandai dengan kerusakan terhadap koordinasi gerakan motorik anak yang biasa dilakukan sehari-hari terganggu. Berikut beberapa gejala tumor otak pada anak.
tumor otak pada anak perlu kita ketahui dari gejalanya

Beberapa Gejala Tumor Otak Pada Anak

1.Mengalami Mual dan Muntah

Rasa mual yang muncul sebagai dampak ketika tubuh anak sedang mengalami perubaan kondisi yang drastic. Tak hanya itu, sakit kepala yang amat berat kerap menyebabkan perasaan mual terhadap penderitanya. Apabila pusing dan mual tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan disertai dengan demam tinggi, sebaiknua untuk segera memeriksakan si kecil ke dokter.  Apalagi bila ia mengalami muntah hingga berwarna kehijauan.

2. Anak Sering Jatuh dengan Tiba-tiba 

Perlu disadari bahwa anak yang melakukan aktifitas fisik, ia akan terlihat mulai sering terjatuh. Apalagi jika anda sering menjumpai dalam intensitas yang kerap. Hal seperti inilah yang menjadi tanda bila si kecil mulai kehilangan keseimbangan pada tubuhnya. Otak sebagai pusat segala aktivitas manusia, sehingga jika terjadi cedera atau permasalahan pada otak, memungkinkan akan mempengaruhi kondisi tubuh dalam melakukan aktivitas fisik.

3. Anak Mengalami Penurunan Penglihatan

Menilik sel kanker pada otak yang selalu menyebar ke bagian organ tubuh lainnya seiring berjalanya waktu. Pasalnya otak adalah pusat segala aktivitas tubuh, dan bagian tubuh yang paling dekat adalah mata. Karena itulah, penyebaran sel kanker pada anak akan ditandai dengan penglihatan anak mulai terganggu. Adapun tanda-tanda gangguan pada mata, mulai dari ola mata anak  tidak mampu bergerak secara responsif mengikuti arah benda bergerak.


4. Mengalami Sakit Kepala Hebat

Anak yang menderita tumor otak akan seringkali mengeluh sakit kepala yang dirasakan. Biasanya sakit kepala yang hebat hingga anak tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Adapun sakit kepala ini ditandai dengan wajah pucat dan bola mata berwarna kemerahan. Bukan hanya itu, tidak jarang karena merasakan pusing yang sangat hebat, anak akan merasakan mual.

5. Kemampuan Gerak Mulai Berkurang

Memang anak yang menderita tumor otak akan mengalami hal yang serupa, yakni kemampuan gerak yang mulai berkurang. Jika anda melihat anak yang sebelumnya sangat lincah, namun kini tiba-tiba ia mengalami kesulitan untuk menggerakkan tangan dan kakinya. Bahkan terkadang si anak kerap mengeluh karena rasa nyeri pada persendian dalam jangka waktu yang cukup lama.

Nah, demikian ulasan yang disampaikan. Operasi otak umumnya merupakan langkah awal pengobatan  tumor otak dengan tujuan mengangkat dan menghilangkan sebanyak mungkin sel-sel tumor dari otak.

Info seputar ibu & kesehatan lainnya : 




Perawatan Untuk Anak Autisme

Perawatan Untuk Anak AutismeAutisme merupakan gangguan perkembangan saraf dengan tanda gangguan interaksi sosial serta komunikasi baik itu verbal maupun non verbal. Autisme terjadi akibat gangguan proses pengantaran syaraf. Diagnosa Autisme bisa diketahui berdasarkan gejala yang timbul dibawah usia 3 tahun. Prevalensi penyakit ini sebesar 1 hingga 2 orang per 1.000 penduduk. Gejalanya memang muncul perlahan dimana anak akan mengalami penurunan perkembangan motorik hingga kemampuan verbalnya.

Sampai saat ini penyakit autis belum memiliki pengobatan untuk menyembuhkannya. Namun anda bisa merawat anak autis dengan beberapa terapi seperti mengasah kemampuan bicaranya hingga membantu meningkatkan kemandirian anak autis. Memang memerlukan ketelatenan lebih dalam perawatan anak autis. Namun bukan menjadi hal mustahil anak autis bisa bersekolah dan berinteraksi dengan anak lainnya. Dibawah ini beberapa cara perawatan anak autis yang bisa anda coba lakukan.

jika anak austime kita perlu melakukan perawatan yang di dasari ilmu untuk anak autisme


Tips Merawat Anak Autis

1. Masuki dunia mereka

Peran orangtua sangat penting dalam membantu perkembangan anak termasuk dalam kasus autisme. Orangtua sebaiknya masuk ke dunia mereka dengan mengajak belajar,bermain dan lainnya. Tariklah anak dari kebiasaan rutin yang terus diulangnya dengan menuntun kepada kegiatan yang lebih bervariasi. Hal ini sangat membantu anak autis agar masuk kedunia luar.

2. Berikan pujian

Berikan pujian jika anak autis berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik walaupun terkadang tidak memberikan dampak apapun. Cara ini sangat membantu mengangkat harga dirinya. Jika pujian tidak mempan anda bisa memberikan reward bermain dengan mainan kesukaan jika anak berhasil menyelesaikan tugasnya.

Baca juga : Cara menemukan hobi anak

3. Gambar dan komunikasi

Komunikasi melalui gambar dan kata-kata lebih baik diberikan kepada anak autis. Komunikasi augmentif bisa anda masukan kedalam kegiatan sehari-harinya. Anda bisa menggabungkan gambar,foto dan berbagai lambang untuk membantu anak mengutarakan maksud, gagasan dan kebutuhannya. Cara ini efektif agar komunikasi anda dengan anak autis berjalan baik.

4. Ajaklah berbicara

Tujuan dari perawatan anak autis agar mereka mampu berbicara. Walaupun terkendala berbagai hal, tetap ajak berbicara buah hati anda dengan semua alat komunikasi yang mereka miliki. Seperti isyarat tangab, foto , gambar dan teknologi. Mengajaknya berbicara sangat efektif membantunya mengenal dan masuk dunia luar.

5. Latih komunikasi

Anak autis memiliki masalah pada komunikasinya sehingga memerlukan cara khusus agar komunikasinya berjalan lancar. Anda bisa menggunakan jadwal kegiatan sehari-harinya dan makanan favoritnya sebagai bagian sistem komunikasinya. Cara ini efektif membantu anak autis berkomunikasi dengan dunia disekitarnya.

6. Program intervensi dini

Tujuan program intervensi dini agar tembok penghalan interaksi sosial anak autis bisa tertembus dengan cara mengutamakan komunikasi melalui cara menunjuk jari, gambar dan bahasa isyarat. Program intervensi dini terdiri atas terapi fisik dan okupasion, terapi wicara dan bahasa hingga perangsangan sensorik. Program intervensi dini efektif membantu anak autis pindah dari intervensi dini ke sekolah umum dan membuatnya mampu memilih lingkungan yang tepat untuk pendidikannya.

Demikian beberapa cara perawatan anak autis. Walaupun belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan namun dengan perawatan yang baik akan membantu buah hati anda untuk hidup mandiri dan berbaur dengan lingkungannya tanpa tembok pemisah.  

Info kesehatan lainnya :




Sunday, August 20, 2017

Mengatasi Kebiasaan Menggigit Kuku Pada Anak

Mengatasi Kebiasaan Menggigit Kuku Pada AnakMenggigit kuku merupakan kebiasaan yang buruk. Hal ini menyebabkan bakteri yang ada dalam kuku bisa masuk dan menyebabkan gangguan pencernaan serta berbagai gangguan lain dalam tubuh. Selain itu menggigit kuku menyebabkan pertumbuhan kuku tidak maksimal terlebih pada anak-anak. Maka penting mencegah dan mengatasi kebiasaan ini sedini mungkin. Penyebabnya bisa karena anak merasa bosan sehingga menggigit kuku menjadi pelariannya. Hal ini perlu penanganan segera agar tidak terbawa hingga dewasa.

Mengatasinya kebiasaan buruk ini perlu dilakukan bertahap. Karena jika sudah terlanjur menjadi kebiasaan cara bertahap agar anak berhenti sangat diperlukan. karena jika anak langsung dilarang menyebabkan ia cenderung memberontak. Diperlukan kesabaran dalam mengatasi kebiasaan ini. mulai dari identifikasi penyebabnya hingga mengganti aktivitas menggigit kukunya dengan hal lain yang bermanfaat. Berikut ini ulasan lengkapnya dalam mengatasi kebiasaan menggigit kuku pada anak.



Cara Mengatasi Kebiasaan Menggigit Kuku Pada Anak

1. Identifikasi

Cara pertama dengan melakukan identifikasi penyebab kebiasaan menggigit kuku. Apakah karena stress atau bosan. Biasanya anak-anak suka menggigit kuku lantaran bosan. Maka alihkan perhatian anak dengan mengajaknya melakukan hal lain agar ia tidak mudah bosan. Latih buah hati untuk menuliskan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi kebiasaa menggigit kuku.

2. Lindungi kuku anak

Jadikan kuku terlindungi untuk menyulitkan anak ketika akan menggigit kukunya. Anda bisa menggunakan perban instan untuk menutupi kuku sementara waktu. hal ini akan melatih kesadaran anak sehingga tidak mudah menggigit kukunya. Selain itu berikan pengertian perlahan-lahan bahwa menggigit kuku adalah hal yang tidak sehat.

3. Ajarkan merawat kuku

Jaga kuku anak agar rapi dan sesuai bentuknya. Berikan pemahaman kebanggaan pada anak jika ia mampu merawat kukunya dengan baik. hal ini efektif meningkatkan kesadaran untuk berhenti menggigit kuku. Ajari anak agar ia bisa merawat kukunya seperti memotong dengan gunting kuku hingga mendampinginya membersihkan kotoran di kukuna. Menempelkan kuku palsu yang sesuai dengan ukuran jari anak juga efektif membantu mengatasi kebiasaan buruk ini.


4. Pengganti aktivitas
Jika sebab menggigit kuku lantaran stress maka gantilah dengan kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Misalnya meremas bola karet hingga menggantinya dengan mainan yang merangsang sensor motorik. Pilih kebiasaan yang bisa mengembangkan potensi anak sehingga aktivitas menggigit kuku akan ditinggalkannya perlahan-lahan.

5. Meningkatkan asupan kalsium

Kalsium yang tinggi pada makanan anak bermanfaat menghentikan kebiasaan menggigit kuku. Hal ini sangat baik sebagai pendukung terapi menghentikan kebiasaan menggigit kuku. Berikan asupan makanan seperti kacang-kacangan hingga aneka biji-bijian pada menu makanannya. Aneka produk susu dan buah kering juga cocok sebagai pilihan makanan kaya kalsium.

Demikian beberapa cara mengatasi kebiasaan menggit kuku pada buah hati. Semoga bisa menambah masukan informasi mengenai terapi mengatasi kebiasaan ini. 

Info kesehatan lainnya : 





Penyebab dan Cara Mengatasi Sakit Mata Pada Bayi

Penyebab dan CaraMengatasi Sakit Mata Pada BayiBayi memiliki sistem ketahanan tubuh yang masih sangat lemah, sehingga tak heran jika bayi kerap menjadi sasaran para bakteri dan virus. Serangan virus tersebut akan mengganggu organ bayi dan mengakibatkan gangguan kesehatan dan penyakit. Sehingga sangat disarankan bagi orang tua yang memiliki bayi, agar terus memberikan perhatian dan perlindungan terhadap bayinya agar tidak mudah terserang virus penyebab penyakit. Salah satu organ tubuh bayi yang biasanya kerap mengalami gangguan adalah mata, dimana organ yang berfungsi sebagai penglihatan dan visual ini sangat rentan terhadap serangan bakteri dan virus.
sakit mata pada bayi wajib di ketahui bunda untuk pengobatan secara alami

Bayi yang mulai aktif dan melakukan berbagai aktivitas menjadi salah satu pemicunya, dimana setelah asyik bermain dan menyentuh berbagai benda di sekitarnya, maka tanpa di sadari bayi pun akan menyentuh matanya, sehingga bakteri dan kuman yang ada di tangannya akan berpindah dan masuk ke dalam mata. Ketika mata terasa pedih akibat masuknya bakteri dan kotoran, maka secara spontan bayi akan mencoba menggosok nya, dan pada saat ini pula penyebaran kuman dan virus di dalam mata semakin banyak dan menjadi parah. Lalu selanjutnya gejala sakit mata yang akan di alami bayi adalah mata menjadi berair dan merah, dan dalam kondisi seperti ini bayi akan terus mengucek mata karena rasa gatal akibat sakit mata yang dialaminya.

Sakit mata memang bukan termasuk dalam jenis penyakit yang berbahaya, namun jika tidak ditangani maka sakit mata pada bayi akan membahayakan penglihatan bayi. Jadi sangat disarankan bagi orang tua yang mendapati masalah sakit mata pada bayinya agar segera melakukan pertolongan dan melakukan penanganan yang tepat. Anda bisa melakukan penyembuhan sakit mata pada bayi tersebut sendiri di rumah sebelum menjadi semakin parah, ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mengatasi sakit mata pada bayi, namun sebaiknya ketahui dulu apa saja yang menjadi penyebab sakit mata pada bayi berikut ini.

Penyebab sakit mata pada bayi

  • Masuknya bakteri dan kuman melalui tangan bayi setelah bayi menyentuh benda-benda di sekelilingnya yang ternyata mengandung banyak bakteri di dalamnya.
  • Akibat adanya debu dan kotoran yang masuk ke dalam mata bayi secara tidak disengaja.
  • Terkena radiasi alat-alat elektronik secara berlebihan
  • Akibat bayi kekurangan vitamin A.
Baca juga : Cara meningkatkan kekebalan tubuh pada bayi

Beberapa hal di atas bisa menjadi salah satu penyebab sakit mata yang terjadi pada bayi, namun secara umum sakit mata pada bayi yang sering terjadi adalah akibat adanya bakteri dan virus serta masuknya kotoran ke dalam mata bayi. Sehingga bagi para orang tua sebaiknya dituntut tetap jeli dan menaruh perhatian sepenuhnya pada bayi, terutama pada saat bayi sedang bermain dan menyentuh benda-benda yang membuatnya penasaran. Namun jika hal itu sudah anda lakukan namun sakit mata pada bayi tetap saja terjadi, maka sebaiknya lakukan cara mengatas sakit mata pada bayi seperti berikut ini.

1. Jaga Kebersihan Mata Bayi

Pada saat sakit mata bayi masih cukup ringan, maka sebaiknya orang tua harus tetap memastikan kebersihan matanya. Pasalnya mata yang dibiarkan dalam kondisi kotor akan memperparah kondisi sakit mata dan dapat menghalangi penglihatan bayi.

2. Melancarkan Saluran Air Mata Bayi

Biasanya dalam kondisi sakit mata, maka saluran air mata bayi akan mengalami penyumbatan jika terdapat banyak kotoran di dalamnya. Jadi sebaiknya lakukan pemijatan ringan pada bagian area lingkar mata bayi terutama pada bagian batang hidung. Hal itu agar saluran air mata tetap lancar dan dapat membantu mengeluarkan kotoran di dalam mata bayi.

3. Jauhkan Dari Kotoran

Kotoran dan debu di luar rumah dapat membuat kondisi mata bayi menjadi semakin parah, pasalnya debu yang tetap masuk ke dalam mata akan membuat mata bayi menjadi merah dan terasa sangat pedih. Jadi sebaiknya pada saat anda membawa bayi keluar rumah, maka hindari kontak langsung dengan debu dan kotoran, anda bisa menutupi area mata bayi pada saat ada kotoran dan debu yang berpotensi dapat masuk ke mata bayi.

4. Tetap Memberikan Pengawasan

Selain untuk menghindari kondisi sakit mata semakin parah, terus mengawasi gerak gerik bayi pada saat bermain juga dapat meminimalkan gangguan kesehatan lain akibat bakteri dan kotoran yang akan masuk ke dalam tubuh bayi. Dengan demikian kondisi sakit mata bayi akan tetap bisa teratasi dan terhindar dari kondisi yang membuatnya semakin parah.

Karena bagaimanapun juga, organ mata adalah salah satu organ penting untuk menunjang masa depan dan kesehatan bayi anda. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka sebaiknya jangan pernah lepaskan perhatian anda pada bayi sedikit pun jika tidak ingin menyesal. Pasalnya kesehatan bayi tergantung dari lingkungan dan peran orang tua yang merawatnya.

Info kesehatan lainnya :


Saturday, August 19, 2017

Tahapan Pubertas Pada Anak Perempuan

Tahapan Pubertas Pada Anak PerempuanProses transformasi dari anak perempuan menuju gadis ditandai dengan fase pubertas. Fase ini menyebabkan perubahan yang drastis pada anak perempuan baik dari segi emosional hingga fisiknya. Hal ini wajar terjadi karena hormon estrogen akan tumbuh sehingga menimbulkan beberapa efek khusus. Mengetahui tahap pubertas pada anak perempuan penting agar orangtua bijak menanggapi perubahan drastis yang dialami oleh putrinya. Pada masa ini anak perempuan akan mengalami menstruasi serta segenap perubahan menuju fase dewasa.

Anak perempuan memiliki tahapan pubertas yang perlu kita ketahui

Tahapan pubertas dibagi menjadi enam fase. Masing-masing memiliki ciri khusus yang bisa anda amati. Tahap awal umumnya dimulai di usia 8 dan berakhir diusia 18 tahun. Masing-masing fase memberikan perubahan fisik dan emosi anak secara signifikan. Tahapan pubertas dimulai dengan adanya kelenjar hipofisis yang menghasilkan hormon FSH kemudian berakhir dengan proses ovulasi yang sudah teratur. Dibawah ini ulasan lengkapnya tentang tahapan pubertas anak perempuan yang bisa diketahui.

Tahapan Pubertas Anak Perempuan

1. Tahap awal

Pada tahapan ini biasanya anak perempuan masuk usia 8-9 tahun. Beberapa tanda internal terjadi sebagai pertanda awal pubertas seperti aktivitas hormon FSH dan LH yang memicu produksi hormon estrogen pada ovariaum. Pada tahapan ini belum terlihat perubahan fisik yang signifikan namun tanda-tandanya sudah mulai nampak.

2. Tahap kedua

Memasuki usia 10 sampai 11 tahun akan terjadi perubahan fisik terutama di payudaranya. Pada tahapan ini akan terjadi perubahan warna pigmen di area puting serta bentuknya yang lebih mengembang. Selain itu terjadi pertumbuhan rambut disekitar area labia sebagai pertanda tahap kedua pubertas.

3. Tahap ketiga

Fase usia 11 hingga 12 tahun merupakan tahap ketiga pubertas yang ditandai dengan pertumbuhan rambut disekitar organ repoduksi. Selain itu di area lain seperti kaki dan ketiak pertumbuhan rambut semakin tebal. Sementara itu pada jaringan payudara areola semakin luas dan pigmentasinya semakin melebar.


4. Tahap keempat

Pertumbuhan rambut disekitar labia dan ketiak lebih tebal. Hal ini terjadi pada fase usia 12-13 tahun. Pada fase ini anak perempuan sudah mulai menstruasi. Namun proses menstruasi tidak selalu terjadi di fase keempat. Karena tahap ini bisa datang lebih awal atau terlambat. Masa ovulasi terjadi pada fase ini namun belum teratur. Perubahan lain juga bisa dilihat dari ukuran alat repoduksi yang semakin besar.

5. Tahap kelima

Jaringan payudara akan tumbuh lebih signifikan. Secara fisik gadis perempuan akan tumbuh lebih tinggi dan mengalami peningkatan berat badan yang maksimal. Selain itu adanya tingkat sekreasi hormon yang lebih tinggi menyebabkan perubahan bau badan yang lebih pada tahapan ini. pada tahap kelima biasanya masuk di usia 14-15 tahun.

6. Tahap keenam

Tahap ini merupakan tahap terakhir masa pubertas. Biasanya tubuh anak gadis akan lebih matang dan tumbuh penuh. Pertumbuhan area vital sudah sempurna dan mencapai ukuran dewasa. Selain itu adanya hormon estrogen yang tumbuh menyebabkan produksi minyak meningkat sehingga lebih rentan terkena jerawat.


Demikian informasi mengenai tahapan pubertas anak perempuan. Semoga bermanfaat menambah informasi mengenai proses pubertas anak dan membantu orangtua menyikapi perubahan drastis pada anaknya. 

Info kesehatan lainnya :